Mana Yang Lebih Baik: Jaring Versus Jaringan

Tuesday, March 23, 2010

Mana Yang Lebih Baik: Jaring Versus Jaringan - Fakultas teknik universitas tempat saya menimbah ilmu pengetahuan tepatnya jurusan teknik elektro terutama konsentrasi minat teknik tenaga listrik (arus kuat) sedang memperdebatkan dua kata yang kelihatan sama yaitu “Jaring” dan “Jaingan”. Saya sendiri tidak tahu pasti sejak kapan masalah (mungkin bukan benar-benar masalah) ini ada, tapi yang jelas sampai sekarang belum ada kejelasan atau pembenaran akan penggunaan kata tersebut. Mungkin kalian yang membaca blog ini agak bingung dimana letak permasalahannya. Baiklah, saya akan menjelaskan mengenai hal itu.

Seorang teman baik saya mengajukan sebuah judul skripsi dengan judul (bukan judul yang sebenarnya) “Desain Jaringan Distribusi Listrik di Dareah X”. Sepintas jika dilihat tidak ada masalah dengan judul yang diajukan oleh teman saya ini, ya semuanya terlihat normal-normal saja. Akan tetapi ketika teman saya membaca beberapa judul skipsi yang terpajang di perpustakaan, ia menemukan judul skripsi yang tidak menggunakan kata “Jaringan” lagi tetapi kata “Jaring”, terutama skripsi-skripsi yang baru masuk milik para senior-senior. Karena menurutnya mungkin kata “Jaring” lebih tepat dari pada kata “Jaringan”, maka teman saya ini mengganti judul skripsinya menjadi “Desain Jaring Distribusi Listrik di Dareah X” dengan kepala penuh dengan tanda tanya.

Setelah yakin bahwa teman saya ini sudah menemukan judul skripsi yang tepat (kecuali kata ‘Jaring’ itu), ia pun segera menunjukkannya kepada dosen-dosen teknik tenaga listrik yang berkompeten untuk mendapat persetujuan sekaligus menentukan siapa dosen pembimbingnya. Konstan saja ada yang setuju dan ada yang tidak setuju dengan penggunaan kata “jaring” yang terselip di dalam judul skripsi tersebut. Dosen A maunya pakai “jaring”, Dosen B maunya pakai “jaringan”, kepala teman saya termasuk saya sendiri dipenuhi tanda tanya besar. Tetapi ada juga dosen yang tidak memberikan pendapat apa-apa. Mungkin di dalam batin mereka meronta-ronta, cuma tidak tahu aja bagaimana mengekspresikannya. Bingung harus ikut yang mana karena keduanya belum mengeluarkan penyataan atau penjelasan tertulis bahkan lisan mengenai penggunaan kedua kata tersebut. Tentu saja dalam hal ini mahasiswa yang akan menjadi korban, terpental kesana kemari seperti bola pimpong, coret ini coret itu, ganti ini ganti itu, dan blah..blah..blah…! Kayak gitu deh kalau kedua belah pihak sama-sama ngotot mempertahankan gagasannya. Benar-benar membingungkan dan sangat misterius pastinya. Anehnya, mereka tidak pernah duduk bersama memecahkan permasalahan ini, apakah “jaring” atau “jaringan” yang benar atau malah kedua-duanya benar. Entahlah, sangat ironis sekali!

Memilih kata memang bukan pekerjaan yang ringan. Penulis perlu memiliki perbendaharaan kata yang banyak serta intuisi berbahasa yang tajam. Kata-kata yang dipilih tidak hanya sekedar harus dapat mewakili secara tepat apa yang ingin disampaikan, tetapi juga harus dapat dipahami dan diterima oleh pembaca tulisan kita. Keraf menyatakan bahwa persoalan pemilihan dan pendayagunaan kata mengacu pada kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara. Dengan kata lain, pemilihan kata menyangkut dua hal, yaitu ketepatan dan kesesuaian. Ketepatan artinya, kata-kata yang dipilih harus dapat menggambarkan secara cermat apa yang ingin dikemukakan oleh penulis. Kesesuaian atau kecocokan maksudnya, kata-kata yang digunakan harus serasi dengan konteks tulisan dan keadaan pembacanya.

Mengapa dalam memilih kata harus memperhatikan pembaca? Karena penulis berkeinginan bahwa apa yang ditulis dapat dibaca, dipahami, diterima, dan ditanggapi pembaca dengan respon yang sesuai dengan harapan kita. Pembaca adalah sasaran atau penerima pesan dari tulisan yang ditulis. Mereka tidak bisa dipersalahkan kalau pesan yang dikemukakan tidak dapat dipahami dengan baik. Sebagai penyampai pesan, maka penulis harus berusaha menyesuaikan diri dengan mereka. Bukan sebaliknya.

Ketergantungan pesan yang disampaikan dipengaruhi pula oleh pemaknaan yang berbeda terhadap suatu kata. Perbedaan itu disebabkan oleh pengalaman, perasaan, dan pengetahuan seseorang. Implikasinya kita sebagai penulis berkewajiban untuk menghilangkan atau meminimalkan kemungkinan timbulnya gangguan pemaknaan pembaca atas tulisan yang disajikan. Atas dasar itu pula, banyak ahli komunikasi yang menyatakan bahwa keberhasilan seorang komunikator-penulis dan pembicara sangat dipengaruhi oleh kemampuannya memahami keadaan pembaca serta merasakan ketersambungan pesan yang dikemukakannya. Lebih lengkap mengenai rambu-rambu pemilihan kata klik DI SINI.

Kalau menurut kalian, mana yang lebih tepat “Desain Jaring Distribusi Listrik di Dareah X” atau “Desain Jaringan Distribusi Listrik di Dareah X”? Jaring atau Jaringan? Tentukan pilihanmu dan jangan lupa berikan alasan mengenai pilihan kamu! Ingat (ting..ting…), belokan sedikit saja bisa menimbulkan takdir yang berbeda loh... Leave your comments now if you want to?

Mana Yang Lebih Baik: Jaring Versus Jaringan - imroee weblog

2 komentar:

Roy Barak Payung said...

Kalau menurut saya, kedua kata itu sama2 benar penggunaannya. Kalau sang penulis punya alasan yang kuat mengenai penggunaannya, kenapa tidak! Asal jangan kata jaring atau jaringan diganti dengan kata pukat, piringan, saringan, atau "sarang burung hantu" yang menyeramkan itu.

Joko Sutarto said...

Saya juga bukan penutur bahasa yang baik apalagi ahli bahasa, Mas Imroee. Kalau para intelektual aja bingung membedakan mana kata yang tepat apalagi saya. Namun berdasarkan pengalaman saya belasan tahun menjadi tukang insinyur kata yang sering disebut banyak para engineer ya "Jaringan" bukan "Jaring."