Cara Laki-Laki Jepang Meminta Maaf

Thursday, April 3, 2014

1 komentar
laki jepang minta maaf Kadangkala di Jepang bila kita benar-benar salah, kata-kata ‘maaf’ saja gak cukup, membungkuk juga masih kurang. maka kita harus melakukan Dogeza! Ya, berlututlah di depan orang untuk meminta maaf. Dogeza (土下座 atau duduk tepat di tanah) menurut Wikipedia merupakan elemen tata krama di Jepang dengan berlutut langsung di tanah dan membungkuk hingga kepala menyentuh lantai. Hal ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai " sujud ". Hal ini digunakan untuk menunjukkan rasa hormat kepada yang paling dihormati (orang kelas tinggi), sebagai permintaan maaf yang mendalam dan mengungkapkan keinginan untuk minta maaf yang tinggi dari orang tersebut. Dalam kesadaran sosial Jepang , tindakan duduk di tanah dan melakukan sebuah adegan ( dogeza ), merupakan penghormatan jarang dan hanya digunakan ketika seseorang menyimpang jauh dari perilaku sehari-hari. Pada periode Edo, dengan melakukan dogeza dan meminta maaf kepada seseorang, biasanya orang tersebut akan memiliki kecenderungan untuk memaafkan. Bahkan saat ini, sebagai metode perlindungan diri dan meminta maaf di mana kerusakan dari citra seseorang agak diabaikan, merasa malu saat melakukan dogeza tetap berakar kuat . Namun, umumnya orang rela melakukan dogeza untuk menunjukkan bahwa mereka berasal dari status sosial yang lebih rendah dan untuk menghormati orang yang derajatnya lebih tinggi. Nah, dalam rangka mempromiskan Blu-Ray dan DVD dari The King of Apologies, Livedoor News Jepang memperlihatkan beragam cara ekstrim untuk melakukan Dogeza atau meminta maaf.

Perbedaan Pacaran Era Tahun 1990-an dengan 2000-an

1 komentar
perbedaan pacara jaman sekarang dan dulu Lain dulu lain pula sekarang, kakek nenek naik sepeda kumbang. Lain dulu lain pula sekarang, pacaran jaman dulu beda banget sama pacaran jaman sekarang,apa sajakah yang membedakannya?cekidot! 1. Komunikasi Quote: 90an: Anak 90an mungkin termasuk pejuang sejati, karena di jaman itu sarana berkomunikasi masih lah sangat minim, penuh effort, dan mahal. Paling effort sih kalau sampe kirim-kiriman surat gitu deh. Tapi biasanya sih mereka pacarannya via telepon rumah. Itu juga harus kena omelan orang tua, karena tiap bulan tagihan membengkak, trus telepon rumah digembok deh. Tapi balik lagi anak 90an kreatip-kreatip, mereka selalu punya cara buat mendobrak gembok tersebut. Menjelang pertengahan 90an, masuk lah pager yang lebih meringkankan anak-anak buat berpacaran. Tapi gak semua bisa punya pager. Harganya lumayan mahal. Trus, muncul lah hanphone. Tapi pada saat itu harga handphone mah mahal banget. Trus pulsanya juga mahal. 2000an: Ah ini mah jamannya pacaran manja. Semakin gampang buat komunikasi, maka semakin ngoyo pacarannya. Udah ditelepon, masih pengen chatingan, abis itu minta kirim foto. Udah gitu minta facetime, trus minta kasih liat yang lain-lain. Kalo gak dikasih ngambek, trus berantem, trus minta putus, tapi besokannya balikan lagi. Maunya apa sih? 2. Janjian Ketemuan 90an: Di era ini anak-anak jarang banget yang punya kendaraan baik itu mobil maupun motor. Ya kalau pacarannya cuma sama tetangga sih enak ya, bisa langsung koprol jemput. Gimana kalau pacarannya beda wilayah? Naik taksi buat jemput mahal bener. Pilihan akhirnya jatuh ke naik angkot, itu juga deg2kan karena takut dicopet. Naik angkot ini gak berarti ngejemput ke rumah pacar ya, tapi janjian ketemuan. Cewek-cewek jaman dulu tuh lebih pengertian gitu deh. Nah, karena belum ada handphone, maka janjiannya pun harus tepat. Misalnya bakal sampe jam berapa dan ketemuannya di mana. Karena kalau sampe meleset sedikit aja, bakal runyam kencan kamu. Tapi salah satu trik yang bisa digunain anak 90an kalau janjian tapi gak ketemu di lokasi adalah dengan memanfaatkan sarana informasi (kalau janjiannya ketemu di mall). “Kepada saudari Cinta ditunggu kehadirannya oleh saudara Fitra di lobi utama”. 2000an: Anak jaman sekarang mah udah pada bawa kendaraan sendiri. Pacaran langsung aja jemput ke rumahnya. Karena itu lah makanya cewek-cewek jaman sekarang banyak yang manja, kalau gak dijemput gak mau pergi. Trus udah dijemput tapi gak bawa mobil ngambek, alesannya kalau naik motor gerah, rambut berantakan, muka berantakan juga. Trus berantem deh, gak jadi pergi, minta putus. Tapi besoknya minta balikan lagi. Maunya apa sih? 3. Tempat Pacaran 90an: Generasi ini tempat pacarannya sekitaran nonton, pergi ke toko buku, duduk di taman, makan pinggir jalan (karena duit juga kebatas) atau ngapel aja deh ke rumah, duduk di teras rumah, berbincang apa saja. Sampai gelas ketiga, dan jam sembilan malam pulang. 2000an: Tempat pacarannya banyak banget dan berubah-ubah sesuai dengan update social media tempat mana yang lagi sering dishare. Kalau gak diajak ke sana ngambek, trus marah, minta putus. Tapi besok pagi minta balikan lagi. Maunya apa sih? 4. Pengakuan Publik 90an: Anak generasi ini sih kayaknya gak terlalu mentingin banget pengakuan publik deh. Cuma sekedar dicie-ciein itu udah tanda kalau publik mengakui pacarannya kamu. 2000an: Harus update status: In relationship with. Padahal semua orang udah tau juga kalau kamu pacaran. Kalau statusnya belum diganti ngambek, trus marah, minta putus. Tapi besok minta balikan lagi. Maunya apa sih? 5. Galeri Foto Pacar 90an: Karena belum punya handphone, anak jaman 90an naro foto pacarnya itu palingan di dalam dompet. Trus disertakan juga bunga edelweiss biar langgeng dan abadi (konon). 2000an: Foto pacar bergelimpangan di dalam handphone. Trus kayak udah jadi kewajiban foto pacar kamu atau foto kamu berdua pacar kamu buat wallpaper handphone kamu. Kalau gak dilakuin ngambek, trus berantem, minta putus. Tapi besok minta balikan lagi. Maunya apa sih?

PERBEDAAN SINETRON REMAJA THAILAND DAN INDONESIA

Monday, March 31, 2014

0 komentar
Di thailand, sinetron remaja tidak selebay di Indonesia, anak-anak sekolah berpakaian sewajarnya sesuai logika, tak ada kesan norak dari rambut gondrong ala koboi junior di sekolah, bahkan pakaian pun rapi, wanita rok nya dibawah lutut, sedangkan pria memasukan baju seragam.

Di indonesia ? rok anak sekolah supermini (pamer paha) dan baju nya awut2an tidak dimasukkan (hanya anak culun yang biasanya bajunya masuk).
Yang pernah melihat serial drama thailand "hormones the confused teens" ada adegan di mana guru menegur murid yang bajunya di keluarkan.

Di sinetron indonesia ? guru malah sibuk pacaran juga. guru yang pakaiannya seksi dan terbuka, di sinetron indonesia kok digambarkan begitu ya..
Konflik dalam serial drama remaja di thailand pun tentang persahabatan, impian, atau cinta remaja, dengan konteks penyelesaian sewajarnya seperti yang kita alami di sekolah.

Di indonesia ? bahkan ember berisi air bisa tiba-tiba jatoh dari atas pintu kelas, terlalu kejam dan selalu ada sosok antagonis dari sekelompok geng di sekolah. (waktu gua sekolah, ga gitu-gitu amat)
i sinetron thailand, semua siswa hampir sama, berangkat sekolah berjalan kaki atau naik sepeda, bahkan pakai sepeda motor itu udah paling gaya (jadi inget masa sekolah).

Di sinetron Indonesia, tokoh utama pasti ada sosok yang kaya raya, kesekolah pakai lamborghini atau ferarri, sebenernya gua bingung, EMANG ADA ? SISWA SMP/SMA KAYA GITU ??
Kehidupan diluar sekolahpun berbeda, digambarkan di serial drama remaja thailand, rumah mereka biasa saja, tidak mencolok, pulang sekolah, belajar, mendengar musik, atau menelpon gebetan, kadang ada sosok teman yang diajak main dirumah.

Di Indonesia ? pasti ada sosok yang rumahnya segede istana negara... dan ada tokoh yang dibuat miskin banget (kasian), belum lagi adegan clubing bareng temen, atau menghadiri pesta ulang tahun temen / gebetan / pembantu..
ebenernya, sinetron indonesia banyak mengadopsi dari budaya barat ataupun korea belakangan ini. tapi mereka menyerap semuanya mentah-mentah...

Sama halnya dengan thailand, perfilman mereka berkiblat pada korea, bahkan menduduki peringkat kedua setelah jepang dalam kiblatnya. namun mereka mencoba membuatnya menjadi masuk akal dan dapat diterima bahkan dirasakan oleh para remaja jika hal di film itu benar-benar ada.

Tidak seperti di serial drama indonesia.. remajanya seolah diracuni kalo baju keluar di sekolah itu ga apa-apa, rambut diwarnai juga bebas, bahkan rok mini pun wajar. jadi mereka melihat mereka yang berpenampilan RAPI dan BENAR dianggap sebagai anak culun.

MIRISNYA SINETRON DI NEGRIKU.